Wahai
Putriku
يا
ابنتي
(علي
الطنطاوي) باللغة
الإندونيسية
J.
D. C. Series On Islam Jeddah
Dawah Center P.
O. Box: 6897, Jeddah
- 21452 Under
Supervision of MINISTRY
OF ISLAMIC AFFAIRS, ENDOWMENTS, PROPAGATION AND GUIDANCE
Putriku
tercinta ! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun.
Hilang sudah rasa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi
banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang. Aku
juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlah
nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan
pengalaman-pengalamanku, dimana engkau belum pernah mendengarnya dari
orang lain. Kami
telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kebejatan
dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih dan kami
tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran
tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan
telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka
bagian lengan, betis dan lehernya. Kami
belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya.
Sesungguhnya jalan kebajikan itu ada di depanmu, putriku ! kuncinya
berada di tanganmu. Benar
bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi
bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikan
bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah.
Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu:
silahkan masuk… ketika ia telah mencuri, engkau berteriak: maling...!
tolong…tolong… saya kemalingan. Demi
Allah…dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis
itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi
Allah... begitulah, janganlah engkau percaya apa yang dikatakan
laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi
bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat. Demi
Allah… ia telah bohong ! senyuman yang diberikan pemuda kepadamu,
kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah
merupakan perangkap rayuan untuk mencapai tujuannya, atau paling tidak,
pemuda itu sendiri merasa bahwa itu adalah rayuan! Setelah itu apa yang
terjadi? Apa wahai putriku? Coba kau pikirkan! Kalian
berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan
engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu.
Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya,
dan engkaulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu
menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang
dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu
selamanya. Bila engkau bertemu
dengan pemuda,
kau palingkan
muka dan
menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan
atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu kau lemparkan ke
kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan
membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu mengganggu gadis-gadis lagi.
Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi
orang tuamu untuk melamar. Cita-cita
wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status
sosial, kekayaan,
popularitas dan
prestasinya, sesuatu
yang sangat
didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah
tangga yang terhormat. Tak
ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung
belang, apabila akan menikah tidak akan
memilih wanita jalang (nakal), akan
tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah
tangga dan ibu putri-putrinya adalah seorang wanita amoral. Sesungguhnya
krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita ! Krisis
perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga
para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis
berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita
yang baik belum juga sadar ? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas
malapetaka ini ? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada
kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti
bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi
korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama. Maka
hendaklah kalian mengajak mereka agar bertaqwa kepada Allah, bila mereka
tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan
akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu
penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah
gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda
mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan
tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan
kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana
kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk
dan wajah keriput? Saat itu, siapa yang akan
memperhatikan ? Siapa yang akan
simpati? Tahukah kalian,
siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek?
Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi
seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai
mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum
bersuami itu ?Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan diatas?
Apakah akibat itu akan kita
tukar dengan kelezatan sementara? Dan
berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu
petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati
saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. Bila kalian tidak dapat
mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita -wanita baik,
gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang
salah. Saya
tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita
kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, akan
tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak
sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit. Perbaikan
tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu
singkat, melainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang
semula kita lewati menuju kejelekan walaupun jalan itu sekarang telah
jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang
yang hanya satu-satunya ini, tidak akan
pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas,
(kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh
bergaul dengan laki-laki yang bukan mahromnya. Isteri tanpa tutup wajah
bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau
menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang
gadis menjabat tangan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan
seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya
sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling
terangsang. Baik wanita, pria atau seluruh penduduk dunia tidak akan
mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus
rangsangan seks dari dalam jiwa mereka. Mereka
yang menggembor-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan
adalah pembohong di lihat dari dua sebab: Pertama: Karena
itu semua mereka lakukan untuk memberikan kepuasan pada diri mereka,
memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat anggota badan yang terbuka dan
kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan
tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu
mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak
ada artinya, kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan
ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang. Kedua:
Mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan
Eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali
apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York.
Sekalipun berupa dansa, porno, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat
dilapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan
menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur,
sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walaupun berupa kehormatan,
kemuliaan, kesucian dan petunjuk. Kata mereka pergaulan bebas itu dapat
mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido
seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah
mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia, yang tidak
beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankan mereka
telah meninggalkan percontohan ini setelah melihat bahwa hal ini amat
merusak? Saya
tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar,
saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya
telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan
tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku
yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara
ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali
engkau. Oleh
karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan
dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya,
hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh
kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristeri dan tidak memiliki
anak, mereka sama sekali tidak perduli dengan kalian selain untuk pemuas
kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat
gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku
sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk
putri-putriku. Sesungguhnya
tidak ada yang mereka inginkan selain memperkosa kehormatan wanita,
kemuliaan yang tercela tidak akan bisa
kembali, begitu pula martabat yang hilang tidak akan
dapat diketemukan kembali. Bila anak putri
telah jatuh, tak seorangpun diantara mereka mau menyingsingkan lengan
untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka
hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan
hilang mereka pun lalu pergi menelantarkan persisnya seperti anjing
meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun. Inilah
nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran, selain ini jangan percaya.
Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki,
kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian
umat pun akan menjadi baik.
(Wallahul
musta’an)
Disarikan dari buku “Wahai Putriku” : Ali Thanthawi
|
||