|
SIAPKAH ANDA MENGHADAPI EMPAT PERTANYAAN
DI PADANG MAHSYAR ? هل
تستعد لتسأل يوم المحشر ؟
(يزيد
عبد القادر جوّاس) J.
D. C. Series On Islam Jeddah
Dawah Center
P.
O. Box: 6897, Jeddah
- 21452 Under
Supervision of MINISTRY OF
ISLAMIC AFFAIRS, ENDOWMENTS, PROPAGATION AND GUIDANCE
Setiap
muslim wajib mengimani Hari Akhir atau Hari Kiamat. Bahkan hal itu
merupakan rukun iman yang kelima. Di dalam hadist-hadist
shahih diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang
di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan
dikumpulkan oleh Allah di Padang Mahsyar. Siapkah kita menghadapi
peristiwa tersebut ? Apa saja yang akan
terjadi pada saat itu? Pada
saat itu manusia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala tentang
segala macam yang telah dilakukan selama hidup di dunia ini. Pada hari
itu tidak berguna harta, anak, tidak bermanfaat apa yang dibanggakan
selama di dunia ini. Pada hari itu hanya ada penguasa tunggal yaitu
Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan berbagai macam nikmat
kepada manusia, kemudian Dia menyuruh menggunakan nikmat tersebut
sebaik-baiknya dalam rangka mengabdi kepadaNya. Karena
Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat itu kepada manusia, maka
sangat wajar apabila Ia menanyakan kepada manusia untuk apa
nikmat-nikmat itu digunakan. Dalam
sebuah haditsnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul
mustaqim) sehingga ia ditanya tentang
umurnya, untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan,
hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk
apa ia gunakan.” (Hadist Shahih Riwayat At Tirmidzi dan Ad Darimi) 1.
1.Umur Umur
adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari manusia. Bila kita berbicara
tentang umur, maka berarti
kita berbicara tentang waktu. Allah dalam Al-Qur'an telah bersumpah dengan waktu :
“Demi masa”, maksudnya agar manusia lebih memperhatikan waktu. Waktu
yang diberikan Allah adalah 24 jam dalam sehari-semalam. Untuk apa kita
gunakan waktu itu ? Apakah waktu itu untuk beribadah atau untuk yang
lain, yang sia-sia ? Di
antara sebab-sebab kemunduran umat Islam ialah bahwa mereka
tidak pandai menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat,
sebagian besar waktunya untuk bergurau, bercanda, ngobrol tentang
hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan terkadang membawa kepada
perdebatan yang tidak berarti dan pertikaian. Sementara orang-orang
kafir menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka
maju dalam berbagai bidang kehidupan dan menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi. Keadaan
umat Islam saat ini sangat memprihatinkan. Ada diantara mereka
yang tidak mengerti ajaran agamanya dan ada yang tidak mengerti
pengetahuan umum. Bahkan ada diantara mereka yang buta huruf baca tulis
Al-Qur'an. Bila kita mau meningkatkan iman dan amal, maka seharusnyalah
kita bertanya kepada diri masing-masing. Sudah berapa umur kita hari ini
dan apa yang sudah kita ketahui tentang
Islam, apa pula yang sudah kita amalkan dari ajaran Islam ini?
Janganlah kita termasuk orang yang merugi. 2.Ilmu Yang
membedakan antara muslim dan kafir adalah ilmu dan amal. Orang muslim
berbeda amaliahnya dengan orang kafir dalam segala hal, dari mulai
kebersihan, berpakaian, berumah tangga, bermuamalah dan lain-lain.
Seorang muslim diperintahkan oleh Allah dan RasulNya agar menuntut ilmu.
Allah berfirman : “Apakah sama orang yang tahu (berilmu) dengan yang
tidak berilmu ?” (Q.S. Az Zumar: 9) Ayat ini kendatipun berbentuk pertanyaan tetapi mengandung
perintah untuk menuntut
ilmu. Menuntut ilmu agama hukumnya wajib atas setiap individu muslim,
misalkan tentang membersihkan
najis, berwudhu yang benar
cara shalat yang benar, cara shalat yang benar dan hal-hal yang
dilaksanakan setiap hari. Karena bila ia tidak tahu, maka amalannya akan
tertolak, dan Allah akan bertanya
kepadanya kenapa ia menyikuti apa yang tidak ia ketahui, seperti dalam
firmanNya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.” (Q.S. Al
Isra’ : 36)
Ilmu yang sudah dipelajari oleh umat Islam harus digunakan untuk
kepentingan Islam. Ilmu yang sudah dituntut dan dipelajari wajib
diamalkan menurut syari’at Islam. Ilmu tidak akan
berarti apa-apa dalam hidup dan kehidupan manusia kecuali bila
manusia mengamalkannya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda
: “Beramallah kamu (dengan ilmu yang ada) karena tiap-tiap orang
dimudahkan menurut apa-apa yang Allah ciptakan atasnya.” (H.R. Muslim)
3. Harta Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Bagi tiap-tiap umat itu
fitnah dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta.” (H.R. At Tirmidzi
dan Hakim) Harta
pada hakikatnya adalah milik Allah. Harta adalah amanat Allah yang
dilimpahkan kepada umat manusia agar dia mencari harta itu dengan halal,
menggunakan harta itu pada
tempat yang telah ditetapkan oleh syari’at Islam. Bila kita amati
keadaan umat Islam saat
ini, banyak kita dapati di antara mereka
yang tidak lagi perduli dengan cara mengumpulkan hartanya apakah
dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram. Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam telah meramalkan hal ini dengan sabdanya : “Nanti
akan datang satu masa, dimasa itu manusia tidak perduli dari mana
harta itu ia peroleh, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram.”
(H.R. Al Bukhari) Setiap
muslim harus hati-hati
dalam mencari mata pencaharian hidupnya karena banyak manusia yang
terdesak masalah ekonomi lalu ia menjadi kalut hingga
tidak perduli lagi harta itu dari mana ia peroleh. Ada yang
memperoleh harta dari usaha-usaha yang batil, misalnya hutang tidak
dibayar, korupsi, riba, merampok, berjudi dan lain sebagainya. Orang
yang mencari usaha dari yang haram akan
mendapat siksa dari Allah, seperti disabdakan oleh Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Barangsiapa yang dagingnya tumbuh
dari barang yang haram, maka Neraka itu lebih patut baginya (sebagai
tempat).” (H.R. Al Hakim)
Harta yang kita dapat dengan cara yang halal harus pula kita
infaqkan pada jalan yang benar pula. Bila tadi disebutkan bahwa harta
itu milik Allah, maka wajib pula kita gunakan harta itu untuk dalam
rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Di
dalam Al-Qur'an ada delapan golongan yang berhak mendapat zakat, yaitu
para fuqara (orang fakir), masakin (orang miskin), amil (pengurus)
zakat, mu’allaf (orang yang baru masuk Islam), untuk membebaskan
budak, orang-orang yang
berhutang, untuk perjuangan jalan Allah dan orang yang sedang dalam
perjalanan. Di masa-masa sekarang ini ada beberapa kelompok yang masuk
prioritas utama yang berhak mendapat infaq dan shadaqah, yaitu golongan
fuqara, masakin dan orang yang di jalan Allah. Orang
fakir adalah orang
yang butuh, tetapi tidak mempunyai pekerjaan sedang hidupnya digunakan
untuk membantu agama Islam . Jadi orang fakir yang dibantu adalah orang
yang memang hidupnya untuk berjuang
di jalan Allah bukan pemalas yang tidak mau berusaha dan tidak
melaksanakan syari’at Islam. Sedangkan orang miskin adalah orang yang
berusaha tetapi usahanya hanya mencukupi kebutuhan minimalnya dalam
keluarganya untuk makan sehari-hari. 4. 4.Badan Manusia
merupakan makhluk yang paling sempurna yang diciptakan Allah di muka
bumi ini. Dengan kesempurnaan susunan tubuh serta akal fikiran yang
diberikan Allah, manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi, manusia
dibebani taklif agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Jasmani
manusia ini dituntut bekerja untuk melaksanakan fungsi khilafah dalam
rangka mengabdi kepada Allah. Letihnya manusia dalam melaksanakan ibadah
kepada Allah akan diganjar
dengan pahala. Tetapi bila letihnya dalam rangka bermain-main,
mengerjakan maksiat, perbuatan sia-sia, beribadah dengan yang tidak
dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, maka
sia-sialah letihnya itu bahkan ada yang akan diganjar dengan api Neraka, karena mereka termasuk
orang-orang yang celaka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam : “Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa
semangat, dan tiap-tiap masa semangat ada masa lelahnya maka barangsiapa
lelah letihnya karena melaksanakan sunnahku, maka ia telah mendapatkan
petunjuk, dan barangsiapa letihnya bukan karena melaksanakan sunnahku,
maka dia termasuk orang yang binasa.” (H.R. Al Hakim dan Al Baihaqi) Demikianlah,
pada hari mahsyar masing-masing manusia akan
diminta pertanggung jawaban atas segala perbuatan yang telah
dikerjakannya selama hidupnya di dunia. Sudah siapkah kita menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan
kepada kita pada saat itu? Kalau belum, kapan lagi kita mempersiapkan
diri kalau tidak sekarang? Segala puji bagi Allah, Penguasa sekalian alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para Shahabatnya(Aas).
Ust.
Yazid Abdul Qadir Jawas
|
||