|
SEGERALAH
BERTAUBAT توبوا
إلي الله J. D. C.
Series On Islam Jeddah
D’awah Center P. O.
Box: 6897, Jeddah
- 21452 Under
Supervision of MINISTRY OF
ISLAMIC AFFAIRS, ENDOWMENTS, PROPAGATION AND GUIDANCE Makna
Taubat Asal
makna taubat adalah kembali dari kesalahan dan dosa kepada keta’atan.
Orang yang bertaubat kepada Allah adalah orang yang kembali dari
perbuatan maksiat menuju perbuatan ta’at. Seseorang dikatakan
bertaubat jika ia mengakui dosa-dosanya, menyesal, berhenti dan berusaha
tidak mengulangi perbuatannya. Di antara para ulama tidak ada perbedaan
pendapat tentang wajibnya taubat. Taubat merupakan fardhu ‘ain yang
harus dilakukan setiap muslim dan muslimah. Perintah taubat merupakan
perintah wajib yang harus segera dilaksanakan sebelum ajal tiba. Allah
berfirman : “Bertaubatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung.” (An Nur: 31)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah
dengan taubat yang benar (ikhlas).” (At Tahrim: 8) Dari
Agharr bin Yasar Al-Muzani, ia berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam bersabda : “Wahai manusia ! bertaubatlah kalian kepada Allah
dan mintalah ampun kepada-Nya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada
Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HSR.
Muslim). Setiap
hari manusia berbuat dosa baik dosa kecil maupun besar, dosa kepada
Khalik maupun kepada makhluk. Setiap anggota tubuh manusia pernah
melakukan kesalahan dan dosa. Mata sering melihat yang haram. Lidah
sering berbicara tidak benar, berdusta, menuduh, ghibah, mencela dan
lain-lain. Telinga suka mendengarkan musik dan lagu yang haram. Tangan
suka menyentuh perempuan yang bukan mahram, mengambil barang yang bukan
miliknya, memukul atau kejahatan lainnya. Kaki kadang melangkah kepada
tempat-tempat maksiat dan seterusnya. Setiap
muslim dan muslimah pernah berbuat salah, baik dia orang awam maupun
ustadh, kyai atau ulama. Karena itu setiap orang tidak boleh lepas dari
istighfar dan selalu bertaubat kepada-Nya, sebagaimana yang dilakukan
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Beliau setiap hari memohon
ampun kepada Allah seratus kali. Istighfar
dan minta ampun bisa dengan membaca: (
أستغفر الله الّذي لا اله إلاّ هو الحيّ
القيّوم و أتوب إليه) “Aku minta
ampun kepada Allah, yang tiada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Hidup dan
Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya” (H.R. Abu Daud 1517, At
Tirmidzi 3495 dan Hakim 1: 511) Jika
seorang muslim atau muslimah pernah berbuat dosa-dosa besar atau
dosa-dosa yang paling besar maka hendaknya ia segera bertaubat. Tidak
ada kata terlambat dalam bertaubat, pintu
taubat selalu terbuka sampai matahari terbit dari barat. Sabda
Rasulullah
Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam :
“ Sesungguhnya Allah Ta'ala selalu membuka tangan-Nya di waktu
malam untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di siang
hari, dan Ia membuka tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat salah di malam hari. Begitulah
hingga matahari terbit dari arah barat.” (H.R. Muslim) Hadist ini dan hadist-hadist lainnya menunjukkan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa bersedia memberi ampunan setiap waktu dan menerima taubat setiap saat. Dia selalu mendengar suara istighfar dan mengetahui taubat hamba-Nya, kapan saja dan di mana saja. Dan kalau manusia mengabaikan soal taubat ini, lengah menggunakan kesempatan untuk mencapai keselamatan, maka rahmat Allah nan luas itu akan berbalik menjadi malapetaka, kesedihan dan kepedihan di padang Mahsyar. Tak ubahnya seperti orang yang kehausan padahal di depannya ada mata air bersih, namun ia tidak menjamahnya, hingga datanglah maut menjenputnya sesudah merasakan penderitaan haus tersebut. Begitulah gambaran orang-orang kafir dan pendurhaka. Pintu rahmat sebenarnya terbuka lebar, tetapi mereka tidak mau memasukinya. Jalan keselamatan sudah tersedia, tetapi mereka tetap berjalan di jalan kesesatan. Kalau tanda-tanda kiamat sudah tampak yakni matahari terbit dari arah barat, kematian sudah di ambang pintu yakni nyawa sudah di tenggorokan, maka taubat tidak lagi diterima. Syarat-syarat Taubat Para ulama menjelaskan syarat-syarat taubat yang di terima Allah sebagai berikut : 1. Orang yang berbuat dosa itu harus berhenti dari perbuatan dosa dan maksiat yang selama ini ia lakukan. 2.Dia harus menyesali perbuatan tersebut. 3. Dia harus berazam (mempunyai tekad bulat) tidak mengulangi 4. Harus ada pernyataan bebas dari hak kawan yang dirugikan. Di
samping syarat-syarat tersebut diatas, orang yang bertaubat
dianjurkan melakukan shalat dua raka’at. Shalat ini dikenal
dengan shalat taubat. (Dalilnya,
lihat hadist hasan riwayat At Tirmidzi, no.404, Ahmad 1: 10, Abu Daud
dan Ibnu Majah) Tingkatan manusia
yang
bertaubat kepada Allah Pertama
: Orang yang istiqamah dalam taubatnya sampai akhir hayatnya.Yaitu yang
tidak berkeinginan mengulangi lagi dosanya dan berusaha membeserkan
semua urusannya yang ia pernah keliru atau salah di dalamnya, tetapi
masih ada dosa-dosa kecil yang masih kadang-kadang ia lakukan. Dan
memang semua manusia tidak bisa lepas dari dosa-dosa kecil ini. Namun ia
selalu beristighfar dan bersegera berbuat baik. Ia termasuk orang
saabiqun bil khairaat (Lihat Q.S. 35 : 32), dan taubatnya dikatakan
taubat nasuha yakni taubat yang benar dan ikhlas. Sedang nafsu seperti
ini disebut nafsu muthma’innah. Kedua
: Ia menempuh jalan orang-orang yang istiqamah dalam semua perkara
ketaatan dan menjauhkan semua dosa-dosa besar, tetapi ia sering
melakukan dengan tidak sengaja. Setiap ia melakukan dosa-dosa itu ia
mencela dirinya dan menyesalinya. Orang seperti ini akan mendapat janji
baik dari Allah. (Lihat Q.S. 53: 32) Dan nafsu yang demikian dinamakan
nafsu lawwaamah. Ketiga
: Orang yang bertaubat dan istiqamah dalam taubatnya sampai satu masa,
kemudian suatu waktu ia mengerjakan lagi sebagian dosa-dosa besar karena
ia dikalahkan syawatnya, kendatipun demikian ia masih menjaga
perbuatan-perbuatan baik dan tetap taat kepada Allah, ia selalu
menyiapkan dirinya untuk bertaubat dan berkeinginan agar Allah
mengampuni dosa-dosanya. Keadaan orang demikian ini digambarkan dalam
firman Allah : “Dan (ada) pula orang-orang lain yang mengakui
dosa-dosa mereka, mereka mencampur-baurkan pekerjaan yang baik dengan
pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. 9: 102) Nafsu
yang demikian ini disebut nafsu musawwalah (Q.S. 12: 18,83) Tingkatan
ketiga ini berbahaya karena bisa jadi ia menunda taubat dan
mengakhirkannya. Kemungkinan pula sebelum ia ada kesempatan taubat
Malaikat Maut sudah diperintahkan Allah mencabut ruhnya, sedangkan amal
perbuatan manusia dihisab menurut akhir kehidupan manusia menjelang
mati. Keempat
: Orang yang bertaubat, tetapi taubatnya hanya sementara waktu saja
kemudian ia kembali lagi melakukan dosa-dosa dan maksiat. Ia tidak
perduli lagi terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan Allah
serta tidak ada rasa lagi menyesal terhadap dosa-dosanya. Nafsu
syahwatnya sudah menguasai kehidupannya dan selalu menyuruhnya berbuat
yang jelek dan dosa.Bahkan ia sudah sangat benci kepada orang-orang yang
berbuat baik dan malah menjauhi mereka. Nafsu yang demikian ini
dinamakan nafsu ammaarah. (Q.S. 12: 53) Tingkatan
keempat ini sangat berbahaya. Dan apabila ia mati dalam keadaan demikian
maka termasuk su’ul khatimah. Seandainya orang ini mati dalam keadaan
Islam, meskipun sudah banyak dosa-dosanya, maka ia masih diharapkan
masuk Surga sesudah disiksa dengan siksaan yang pedih di dalam api
Neraka. JANJI
ALLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG BERTAUBAT DAN ISTIQAMAH DALAM TAUBATNYA 1. Taubat menghapuskan dosa-dosa seolah-olah ia tidak berdosa “Orang yang
bertaubat dari dosa seolah-olah ia tidak berdosa” (H.R.Ibnu Majah,
Shahih Jami’us Shaghir 3005) Allah
berfirman : “Kecuali orang-orang bertaubat, beriman dan mengerjakan
amal shalih, maka Allah akan ganti kejahatan mereka dengan kebajikan.
Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S. 25: 70) 2. Allah berjanji menerima taubat mereka. Allah
berfirman : “ Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya Allah menerima
taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S.
9: 104) 3.
Orang yang istiqamah dalam taubatnya adalah sebaik-baik Nabi Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam bersabda : “ Setiap anak Adam pasti berbuat salah
dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”
(H.R.Ahmad 3: 198. Shahih Jami’us Shaghir 4391)
“Seandainya
hamba-hamba Allah tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan menciptakan
makhluk yang berbuat dosa kemudian “mereka istighfar” (minta ampun
kepada Allah), lalu Allah mengampuni dosa mereka. Dan dia adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (H.R. Hakim
4: 246) Obat
Mujarab Agar Bisa Istiqamah Dalam Taubat Setiap
penyakit ada obatnya dan setiap penyakit ada ahli yang dapat menangani
untuk menyembuhkannya. Obat penyakit badan dan tubuh bisa diserahkan
kepada dokter. Tetapi penyakit hati hanya bisa diobati dengan kembali
kepada agama yang benar. Hati yang lalai merupakan pokok segala
kesalahan. Dan penyakit hati ini lebih banyak dari penyakit badan,
karena orang tersebut tidak marasa bahwa dirinya sedang sakit. Dan
akibat dari penyakit ini seolah-olah tidak tampak di dunia ini. Adapun
obat mujarab bagi penyakit hati sesudah ia kembali kepada agama yang
benar ialah : 1. Mengingat ayat-ayat Allah yang menakutkan dan mengerikan tentang
siksa yang pedih bagi orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat membaca
Juz Amma dan artinya misalnya dan sebaiknya dihafalkan. 2. Membaca hikayat nabi-nabi para salafus shalih serta musibah- musibah
yang menimpa mereka dan umatnya akibat dosa yang mereka lakukan. 3. Selalu mengingat bahwa setiap dosa dan maksiat mempunyai akibat
jelek di dunia maupun di akhirat. 4. Senantiasa mengingat ayat-ayat dan hadist-hadist yang mengisahkan
tentang siksa-siksa dari satu persatu dosa, seperti dosa minum khamar,
riba, zina, ghibah dan lain-lain. 5. Membaca istighfar dan sayyidul istighfar setiap hari. Semoga
Allah memberi taufik dan hidayahNya kepada kita, menuntun kita untuk
segera bertaubat serta memberi kita kesudahan yang baik, khusnul khatimah.
Amin Yazid
Abdul Qadir Jawas.
|
||