|
DIEN ITU ADALAH NASEHAT الدين
النصيحة (فارق
قاسم عانوز) J. D. C. Series On Islam (Bahasa
Indonesia) Jeddah
Dawah Center Under
Supervision of MINISTRY
OF ISLAMIC AFFAIRS, ENDOWMENTS, PROPAGATION AND GUIDANCE Dari Abu Ruqayyah bin Tamim bin Aus Ad Dary Radhiallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :”Dien itu adalah nasehat.” Kami bertanya : “Kepada siapa?” Beliau menjawab: “Kepada Allah, kepada kitabNya, kepada RasulNya, kepada pemimpin kaum muslimin serta kepada segenap kaum muslimin pada umumnya.” (H.R. Muslim) 1.
Pengertian Nasehat Kata “nasehat” berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata kerja nashaha yang berarti murni serta bersih dari segala kotoran, tetapi juga bisa berarti menjahit. Imam Al Khaththabi rahimahullah menjelaskan arti kata nasehat sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam: “Nasehat adalah kata untuk menerangkan suatu pengertian, yaitu keinginan kebaikan untuk orang yang dinasehati.” Adapun sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Dien itu adalah nasehat,” bukan berarti bahwa nasehat itu merupakan keseluruhan dari dien ini, tetapi maknanya sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Daqiqil Ied dalam Syarah Al Arba’in Nawawiyah (hal.32) bahwa nasehat itu merupakan tiang serta tonggak dari dien ini,sebagaimana sabda beliau: “Haji itu adalah Arafah.” 2. Pengertian Nasehat kepada Allah Imam Al Khaththabi rahimahullah berkata: “Hakikat kata “kepada Allah” sesungguhnya kembali kepada hamba itu sendiri dalam nasehatnya kepada diri sendiri, karena Allah tidak membutuhkan nasehat.” Pengertian nasehat kepada Allah adalah dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, baik perintah yang wajib maupun yang sunnah, begitu pula meninggalkan larangan yang makruh, lebih-lebih yang haram. Dan seutama-utama kewajiban adalah mentauhidkan Allah. Setiap muslim wajib menyakini bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Pengatur. Dialah yang menghidupkan dan mematikan serta memberi rizki kepada kita semua. Apabila demikian keadaannya, maka wajib bagi setiap muslim beribadah kepada Allah semata, dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun. Ia harus menyakini tidak ada yang dapat memberikan manfaat atau mudharat kecuali Allah semata. Dia harus mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifatNya sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah dalam kitabNya atau melalui lisan RasulNya, tanpa mengubah arti yang sesungguhnya, tanpa mengingkarinya, tanpa menyerupakan dengan makhlukNya dan tanpa menanyakan kaifiyah (bagaimana)nya. Inilah yang difahami oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya serta orang-orang beriman yang mengikuti jejak mereka. Barangsiapa mengikuti jalan selain mereka maka orang tersebut sesat dan diancam Allah dengan api Neraka Jahanam. Allah
berfirman : “Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
baginya, dan mengekuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat
kembali.” (Q.S. An Nisa: 115) Seseorang yang beribadah kepada Allah semata ia pasti cinta kepadaNya mengharapkan rahmatNya serta cemas akan adzab dan siksaNya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin menerangkan tentang tanda-tanda orang yang cinta kepada Allah, diantaranya tunduk dan patuh kepada Allah, selalu ingat kepadaNya; mencintai apa yang dicintaiNya dan membenci apa yang dibenciNya, lebih mengutamakan ridha Allah daripada ridha makhlukNya, sabar dan ridha atas musibah yang menimpanya, memiliki kecemburuan terhadap Allah, yakni marah jika aturan-aturan Allah dilanggar, selalu berupaya menegakkan agama Allah, berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah, berjihad dien jalan Allah dengan harta maupun jiwanya. 3.Pengertian
Nasehat kepada Kitab Allah Imam Muhammad ibnu Nashr Al Marwazi rahimahullah berkata dalam kitabnya Ta’zhimu Qadris Shalat (II / 693) : “Sedangkan nasehat kepada kitab Allah adalah dengan mengagungkan dan mencintainya, karena Al-Qur'an adalah kalamullah. Lalu, memiliki perhatian dan keinginan yang kuat untuk memahaminya, mempelajari dengan didasari rasa cinta kepadanya, serius dan penuh konsentrasi di saat membacanya agar dapat memahami sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Selanjutnya ia dituntut mengamalkan seluruh isi Al-Qur'an, berakhlak dengan akhlaknya dan beradab dengan adabnya setelah itu ia harus menyebarluaskannya kepada manusia apa yang telah ia pahami.” Dan untuk memahami Al-Qur'an dengan pemahaman yang benar haruslah memahami metode yang benar pula. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam Muqaddimah Tafsir Al-Qur'anul Azhim, sebenar-benar metode tafsir adalah penafsiran Al-Qur'an dengan ayat-ayat Al-Qur'an, penafsiran Al-Qur'an dengan As Sunnah, penafsiran Al-Qur'an dengan ucapan para Shahabat dan penafsiran Al-Qur'an dengan ucapan para Tabi’in. Adapun
penafsiran Al-Qur'an dengan ra'yu (pendapat) semata hukumnya adalah
haram. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Syikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah (lihat dalil-dalilnya dalam buku beliau “Al
Muqaddimah fi Ushulit Tafsir”)
4.
Pengertian Nasehat kepada Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Setiap muslim harus mengetahui sejarah hidup Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan mengerahkan segala kemampuannya untuk taat, membela dan menolongnya. Seseorang yang bersaksi “Muhammad adalah utusan Allah” harus membenarkan segala apa yang diberitakan beliau meskipun tidak masuk akal, mentaati segala yang diperintahkannya dan menjauhi segala yang dilarangnya serta beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan beliau. Seorang muslim harus yakin pula bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendapat hak dari Allah untuk mewajibkan atau mengharamkan sesuatu meskipun tidak terdapat dalam Al-Qur'an. (Lihat Ar Risalah, Imam Syafi’i rahimahullah ) Firman Allah: “(Yaitu) orang –orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan mereka segala yang baik dan mengharamkan mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S.Al A’raf: 157) Orang-orang
yang menang adalah yang membawa kecintaan dan ketaatan pada jejak beliau,
sedang orang-orang yang merugi adalah yang terhalang dari mengikuti
ajarannya. Barangsiapa taat kepada beliau maka berarti taat kepada Allah,
dan barangsiapa menentangnya, maka dia telah menentang Allah dan
kelak akan mendapat balasan yang setimpal.
5.
Pengertian Nasehat kepada Para Pemimpin Muslim Syaikh
Muhammad Hayat As Sindi rahimahullah dalam buku beliau “Syarah Al
Arba’in An Nawawiyah” (hal. 48) berkata: “Yang dimaksud para
pemimpin muslim adalah para penguasa mereka. Seorang muslim haruslah
menerima, mendengar dan taat kepada para penguasa selama yang
diperintahkan bukan hal maksiat. Sebab tidak boleh taat kepada makhluk
dalam hal kemaksiatan terhadap Allah Maha Pencipta.Tidak boleh memerangi
selama mereka belum kafir, berusaha memperbaiki keadaan mereka, meluruskan
kesalahan mereka dengan jalan amar ma’ruf nahi mungkar, mendoakan mereka
agar mendapatkan kebaikan karena kebaikan mereka berarti kebaikan bagi
rakyat, dan kerusakan mereka berarti kerusakan pula bagi rakyat.” 6.
Pengertian Nasehat kepada Kaum Muslimin pada Umumnya Setiap
muslim adalah saudara muslim lainnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam menggambarkan perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal cinta,
kasih sayang dan kelembutan antara sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika
ada bagian tubuh yang sakit maka seluruh tubuh merasakan sakit pula, tak
dapat tidur. Seorang muslim haruslah mencintai kaum muslimin
sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, turut serta memikirkan dan
memudahkan urusan mereka, turut bersedih atas kesedihan mereka dan
bergembira atas kegembiraan mereka, tidak menipu mereka, tidak mendzalimi
mereka dalam bentuk apapun bahkan membela orang-orang yang didzalimi tanpa
pamrih semata-mata mencari ridha Allah, tidak menimbun barang sehingga
harga melambung tinggi, mengajak mereka ke dalam kebaikan dan mencegah
mereka dari kemungkaran dan kesesatan. Mengasihi yang lebih muda dan
menghormati yang lebih tua diantara mereka. Semoga kita bisa merealisasikan hadist diatas Amin…Amin. Segala puji bagi Allah, Penguasa seluruh alam, semoga shalawat dan salam tetap dicurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. PENTING
!!! Anda
membutuhkan informasi tentang Islam atau ingin berkonsultasi mengenai
problem yang sedang dihadapi? Janganlah segan-segan menghubungi Islamic
center terdekat di kota anda, diantaranya adalah : 1.
JEDDAH DA’WAH CENTER Hayy As Salamah, sebelah timur masjid Syuaibi Telp : (02) 6829898 Fax : (02) 6622662 P.O.
BOX 6897 Jeddah 21452 –K.S.A 2. Maktab dawah dan tauiyah al jaliyat Telp:
(06) 3644506 P.O.
BOX 808 Unaizah- K.S.A
3.
Markas dawah wal irsyad, syubah dawah al
jaliyat Telp
dan fax : (07) 6222474 P.O.
BOX : 350 Bisha –K.S.A
4.
HAIL ISLAMIC DAWAH CENTER Telp
: (06) 5334748, Fax: (06) 5432211 P.O
BOX 2843 HAIL –K.S.A
|
||