|
BAHAYA
MENGANGGAP ENTENG DOSA في
خطر الاستهانة بالذنوب
(باللغة
الاندونيسية) J.
D. C. Series On Islam No. 51 Jeddah
Dawah Center P.
O. Box: 6897, Jeddah
- 21452 Tel:
682 9898 Fax: 6622662 Under
Supervision of MINISTRY
OF ISLAMIC AFFAIRS, ENDOWMENTS, PROPAGATION AND GUIDANCE
BAHAYA MENGANGGAP ENTENG DOSA Ketahuilah
–semoga Allah menyayangiku dan anda- bahwa sesungguhnya Allah Azza wa
Jalla telah telah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk mengikhlaskan taubat,
Ia berfirman dalam surat
At-Tahrim ayat 8 yang artinya : “ Wahai orang-orang yang
beriman bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang
sebenar-benarnya.” Allah telah memberi karunianya kepada kita dengan memberi kesempatan untuk bertaubat yaitu sebelum malaikat yang mulia mencatatnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya : “ Sesungguhnya malaikat yang berada disebelah kiri menahan dari menulis kesalahan hamba yang muslim selama enam jam, apabila ia menyesal dan meminta ampun kepada Allah maka malaikat akan membiarkannya, tetapi apabila tidak, maka dicatatnya sebagai satu kesalahan. “ H.R. Thabrani dalam “ Al-Mu’jam Al-Kabir “, dan Al-Baihaqi dalam “Syu’abul Iman”, dihasankan oleh Syaikh Al-Bani dalam “ Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah” no. 1209 Dan
kesempatan yang lain setelah ditulisnya tetapi sebelum datangnya ajal.
(Arti “jam” pada hadits diatas ada kemungkinan jam yang kita kenal
atau berarti waktu sesaat di malam atau siang hari, “Lisanul Arab sin,
wau, ‘ain- “Faidhul Qadir” oleh Imam Al-Munawi). Musibah yang banyak menimpa manusia hari ini adalah mereka tidak berharap kepada Allah, sehingga mereka siang malam selalu berbuat maksiat dengan berbagai macam dosa kepada-Nya, diantara mereka ada segolongan yang ditimpa musibah “menganggap kecil dosa” , maka engkau lihat salah seorang mereka menganggap enteng dosa-dosa kecil yang ia lakukan, seperti dengan mengatakan : “memandang dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan muhrim tidaklah berakibat apa-apa”. Dan mereka menikmati pandangan-pandangan haram yang terdapat di majalah-majalah dan film-film seri, sampai-sampai sebagian dari mereka apabila tahu tentang haramnya suatu masalah ia bertanya dengan nada meremehkah : “Berapa besarnya dosa tersebut? Apakah ia dosa besar atau dosa kecil?” Apakah engkau mengetahui kenyataan yang ada maka bandingkanlah dengan dua atsar berikut ini yang terdapat dalam Shahih Bukhari -semoga Allah merahmatinya- : 1.
Dari Anas Radhiallahu 'anhu, ia
berkata : “sesungguhnya kalian berbuat amalan yang menurutmu lebih
halus dari rambut, tetapi kami di masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam menganggapnya sebagai dosa besar yang membinasakan. 2.
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'anhu,
ia berkata : “Sesungguhnya seorang mu’min, ia melihat dosa-dosanya
seolah-olah ia duduk dibawah gunung, ia takut kalau gunung itu jatuh
menimpanya. Dan sesungguhnya
seorang fajir (yang banyak berbuat dosa) melihat dosa-dosanya bagaikan
lalat yang hinggap di hidungnya maka ia berbuat demikian menggerakkan
tangannya maka ia mengusirnya. Maka
tidaklah mereka (yang menganggap enteng suatu dosa) memikirkan betapa
bahayanya perkara ini, padahal Nabi mereka Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
telah bersabda yang artinya : “ Hati-hatilah kalian dengan dosa
kecil, sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil bagaikan satu kaum yang
turun kepada kembah, maka seorang datang membawa kayu bakar, dan yang
lainnya membawa sepotong juga, sehingga mereka membawa sesungguhnya
dosa-dosa kecil membinasakan pelakunya ketika ia dihisap.” Dan dalam
riwayat lain : “Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa kecil, karena
dosa-dosa kecil itu apabila berkumpul pada orang tersebut akan
membinasakannya.” H.R. Ahmad (lihat
Shahih Al Jami’ no. 2686-2687) Para ulama menyebutkan bahwa dosa kecil yang dibarengi dengan tidak adanya malu, tidak perduli, tidak ada rasa takut kepada Allah, ditambah dengan sikap meremehkannya akan mengakibatkan terjerumus ke dalam dosa besar, bahkan dosa kecil tadi berubah menjadi setingkat dengan dosa besar. Oleh karena itu tidaklah disebut
dosa kecil apabila dilakukan terus-menerus, dan tidaklah
disebut dosa besar apabila dibarengi dengan bertaubat (istigfar). Dan
kami mengatakan kepada orang yang keadaannya demikian : “Janganlah
engkau melihat kepada kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau
berbuat maksiat.” Semoga
kata-kata ini dapat bermanfaat bagi orang-orang yang benar, yaitu mereka
yang selalu merasa penuh dosa dan kelalaian, bukan mereka yang tidak
peduli terhadap kesesatan mereka dan bukan pula mereka yang terus menerus
dalam kebatilan. Sesungguhnya kata-kata ini untuk mereka yang beriman kepada firman Allah : (
نبىّء عبادى أنىّ أنا الغفور الرحيم ) “ Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang “ (Q.S. Al Hijr 49) Selain itu mereka beriman pula kepada firman-Nya : (وأنّ
عذابى هو العذاب الأليم) “Dan
bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.”
(Q.S. Al
Hijr 50) Diterjemahkan oleh : Fariq Gasim Anuz Dari mukaddimah buku “ Uriidu an atuuba walakin…” (Aku ingin bertaubat, tetapi…) halaman 7-9 Oleh
: Syaikh Muhammad bin Shlih Al Munajjid JEDDAH
DA’WAH CENTER HAYY
AS SALAMAH TIMUR
MASJID AS SYU’AIBI TELP
: 6829898 |
||