|
ENGKAU
أنت
و الهوى
(الشيخ
عبد الرحمن بن يحي المعلّمي رحمه الله) باللغة
الإندونيسية
J. D. C. Series On Islam
(Bahasa
Indonesia) Jeddah
Dawah Center Andaikan sampai berita kepadamu
bahwa seseorang mencaci maki Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
Kemudian orang lain mencaci Nabi Daud Alaihis Salam. Sedangkan orang
yang ketiga mencaci maki Umar atau Ali Radhiallahu 'anhuma, dan orang
yang keempat mencaci maki gurumu, serta orang yang kelima mencaci maki
guru orang lain.
Apakah
kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada
mereka telah sesuai dengan
ketentuan syariat? yaitu, kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua
hampir sama. Tetapi jauh lebih keras jika dibandingkan dengan yang
lainnya. Kemarahanmu kepada orang ketiga harus lebih lunak dibandingkan
dengan yang awal, akan tetapi
harus lebih keras dibandingkan dengan yang sesudahnya. Kemarahanmu
kepada orang keempat dan kelima hampir sama, akan
tetapi jauh lebih lunak jika dibandingkan dengan yang lainnya. Misalkan engkau memperhatikan
suatu masalah dimana ulama idolamu mempunyai suatu pendapat tentangnya,
dan ulama lain menyalahi pendapat tersebut. Apakah hawa nafsumu yang
lebih berperan dalam mentarjih (menguatkan) salah satu dari dua pendapat
tadi ? Ataukah engkau menelitinya supaya dapat diketahui mana yang lebih
rajih diantara keduanya dan engkau dapat menjelaskan
kerajihannya tersebut. (Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
mengomentari ucapan diatas: “Janganlah sekali-kali engkau mencari yang
rajih bagi salah satu dari dua pendapat itu semata-mata karena orang
yang mengucapkan adalah orang yang engkau kagumi. Perbuatan ini adalah
perbuatan muqallid yang jumud. Hati-hatilah kamu jangan seperti mereka
! Dan merupakan karunia Allah Shuhanahu wa Ta'ala, banyak dari
umat ini yang telah meninggalkan fanatik madzhab, akan
tetapi datang penggantinya yang
lebih dahsyat dan lebih memilukan, yaitu fanatik kelompok ! Kami
memohon pertolongan kepada Allah, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan
pertolonganNya.”
Misalkan
pula engkau membaca sebuah ayat maka nampak bagimu bahwa ayat tersebut
sesuai dengan ucapan ulama idolamu. Kemudian engkau membaca ayat
yang lain dan nampak olehmu
dari ayat tersebut
menyalahi ucapan yang lain dari ulama tersebut. Apakah engkau berusaha
mencari kejelasan tentang dua ayat
tersebut yaitu dengan mengkajinya secara seksama, ataukah engkau
bersikap tidak perduli, dan tetap taklid kepada ulama idolamu tadi ? Misalkan pula ada seseorang
yang engkau cintai dan yang lain engkau membencinya. Keduanya berselisih
dalam suatu masalah, kemudian engkau dimintai pendapatmu oleh orang lain
tentang perselisihan tersebut. Ketika engkau meneliti permasalahan
tersebut, apakah hawa nafsumu yang berperan sehingga engkau memihak
orang yang engkau cintai? Misalkan pula engkau
mengetahui seseorang berbuat kemungkaran dan engkau berhalangan untuk
mencegahnya. Kemudian sampai berita kepadamu ada orang lain yang
mengingkari orang tersebut dengan kerasnya. Maka apakah anggapan baikmu
terhadap pengingkaran tersebut akan
sama apabila yang mengingkari itu temanmu atau musuhmu, begitu
pula bagaimana sikapmu apabila yang diingkari itu temanmu atau musuhmu? Periksalah dirimu ! Engkau
akan dapatkan dirimu
sendiri ditimpa musibah berupa perbuatan maksiat atau kekurangan dalam
hal dien. Juga engkau dapati orang yang kau benci ditimpa musibah berupa
perbuatan maksiat dan kekurangan lainnya dalam syariat yang tidak lebih
berat dari maksiat yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebencian
kepada orang tersebut sama dengan kebencianmu terhadap dirimu sendiri?
Dan apakah engkau dapatkan kemarahanmu kepadanya? Sesungguhnya pintu-pintu hawa
nafsu tidak terhitung banyaknya. Saya mempunyai pengalaman pribadi
ketika memperhatikan satu permasalahan yang saya anggap hawa nafsu tidak
ikut campur didalamnya. Saya mendapatkan satu pengertian dalam masalah
tersebut, lalu saya menetapkannya dengan satu ketetapan. Setelah itu
saya melihat sesuatu yang membuat cacat ketetapan tadi, tetap saja saya
gigih mempertahankan kesalahan tersebut dan jiwaku menyuruhku untuk
memberikan pembelaan dan menutup mata, serta menolak untuk mengadakan
penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya
menetapkan pengertian pertama yang saya kagumi itu, hawa nafsu saya
condong untuk membenarkannya.
Padahal belum ada seorangpun yang tahu akan
hal ini. Maka bagaimana jika sekiranya hal tersebut sudah saya
sebar luaskan ke khalayak ramai, kemudian setelah itu nampak olehku
bahwa pengertian tersebut salah? Bagaimana pula apabila kesalahan itu
bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain yang
mengkritikku? Maka bagaimana pula jika orang yang mengkritik tersebut
adalah orang yang aku benci? Hal ini bukan berarti bahwa seorang muslim
dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu, karena hal ini diluar
kemampuannya. Tetapi kewajiban seorang muslim adalah mengoreksi diri
tentang hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya dan
memperhatikan dengan seksama dalam hal kebenaran sebagai suatu
kebenaran. Apabila jelas baginya bahwa kebenaran itu menyalahi hawa
nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa
nafsunya. Seorang muslim terkadang
dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran terhadap kebatilan
sehingga akhirnya ia condong kepada kebatilan dan membelanya. Dia
menyangka bahwa dirinya menyimpang dari kebenaran. Dan menyangka bahwa
dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran. Dan ini hampir tidak ada yang
selamat darinya kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Shuhanahu wa
Ta'ala. Hanya saja manusia
bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu. Diantara mereka
ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai melampaui batas
sehingga orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa
nafsu yang demikian besar menyangka bahwa orang tadi melakukan kesalahan
yang fatal dengan sengaja. Diantara manusia ada yang dapat mengekang
hawa nafsunya sehingga jarang mengikuti hawa nafsunya. Oleh sebab itu
barangsiapa yang sering membaca buku-buku dari penulis yang sama sekali
tidak menyandarkan ijtihad mereka kepada
Al-Qur'an dan As Sunnah, maka dia akan
mendapatkan banyak
keanehan. Hal ini tidak mudah diketahui kecuali oleh orang-orang yang
hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku tersebut, tetapi condong
kepada kebenaran. Kalau hawa nafsunya cenderung kepada buku-buku
tersebut bahkan ia sudah dikuasai hawa nafsunya, maka dia menyangka
bahwa orang-orang yang sependapat dengannya itu terbebas dari mengikuti
hawa nafsu, sedangkan orang-orang yang bertentangan dengannya adalah
orang-orang mengikuti hawa nafsu. Orang salaf dahulu ada yang
berlebihan dalam mengekang hawa nafsunya sampai ia terjerumus ke
dalam kesalahan pada sisi yang lain. Seperti seorang hakim yang
mengadili dua orang yang berselisih, orang yang pertama adalah saudara
kandungnya sedangkan yang kedua adalah musuhnya. Ia berlebihan di dalam
mengekang hawa nafsunya sampai ia mendzalimi saudara kandungnya sendiri.
Ia seperti orang yang berjalan di tepi jurang yang curam di kanan
kirinya, berusaha menghindar jurang yang disebelah kanannya namun
berlebihan sehingga ia terjatuh ke dalam jurang yang disebelah kirinya. Sumber : Ma laa yasa’u
Al Muslimu Jahluhu min Dhzruriyat At Tafakkur (Nukilan dari buku “Al
Qaid Ila Tashih Al Aqa’id”) Oleh : Syaikh
Abdurahman bin Yahya Al Mu’allimi Al yamani rahimahullah
Muqaddimah
dan Ta’liq
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al
Atsari. بسم
الله الرحمن الرحيم
Saudara-saudara
seiman yang berbahagia, Allah telah memberikan kepada kita karunia yang
sangat besar yaitu dijadikannya kita sebagai seorang muslim. Adalah merupakan kewajiban
kita untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikannya
kepada kita. Salah satu bentuk syukur adalah dengan menuntut ilmu Islam,
sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda yang
artinya : “Menuntut ilmu wajib (hukumnya) atas setiap Muslim.”
Hadist Shahih Riwayat Ibnu Majah dan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan anda
dalam menuntut ilmu, maka JEDDAH DA’WAH CENTER telah membuka majelis
ta’lim secara gratis dibimbing oleh tenaga da’i dari Indonesia, juga
terdapat di kantor kami buku-buku yang berisi tentang keimanan, ibadah
dan akhlak. Semoga buku-buku tersebut dapat
menjadikan cambuk untuk lebih giat dalam menuntut ilmu Islam dan
mengamalkannya sesuai dengan pemahaman dan pengamalan para sahabat
sehingga dapat mengantarkan anda kepada kebahagiaan di dunia dan
akhirat.
JEDDAH
DA ‘WAH CENTER
Hayy As Salamah, sebelah timur masjid As Syu’aibi
Telp: 6829898 P.O.
BOX: 6897, Jeddah 21452
|
|
|
|
|